Wartawan Di Sandera Dan Dianiaya Oleh Sekelompok Preman ,” Baca Kronologis nya …!!!

Palas ( sumut24.net ) - Penyanderaan terhadap Wartawan Jurnal Polri .Com. dalam rangka peliputan / menjalankan Tugas jurnalistik di wilayah hukum polres Padang Lawas (Palas) Sumatra utara , empat orang wartawan di sandara dan dianiaya oleh sejumlah preman, hal ini terjadi ketika M Husin Tanjung serta ke tiga rekan nya , telah menjadi korban penganiayaan para preman , yang mengatas namakan kelompok masyarakat , kejadian pada Jumat ( 28/4/2023 siang , tempat kejadian di jalan dusun kali kapuk desa Huta raja tinggi kecamatan Sosa kabupaten Padang lawas ( Palas ) Sumut .

" Wawancara Awak Media Bersama M Husin Tanjung Wartawan Jurnal Polri .Com awal dari kejadian , ketika itu setelah mendapat info dari Jokowi mediator pemilik alat berat , meminta kepada kami berempat agar datang ke dusun kali Kapuk untuk mencari informasi terkait persoalan masalah alat berat yang di tahan oleh sekelompok yang mengaku warga kali kapuk, tujuan hanya mencari informasi yang sebenarnya , apa permasalahan atau persoalan nya , mengenai alat berat yang di tahan , setelah di telusuri ternyata dalam pengerjaan tentang pembuatan parit perbatasan yaitu di kebun kelapa sawit milik sdr GM ( 40 ) ,
alat berat berupa komatsu ," tandas nya .

Lanjut Husin , alat JK yang sedang bekerja di hentikan langsung di tahan oleh warga dan kelompok yang tidak kenal sama sekali , sekaligus mereka langsung mengancam dengan parang - golok dan pisau juga bermacam alat sajam lain nya , dengan begitu sigap / cepatnya , entah dari mana datang nya mereka lalu menyandra kami , serta mengancam akan kami bunuh kalian ...!! bacok langsung kalau ada yang mem Foto serta me rekam dan mem vidio kan , tentang hal yang telah terjadi di lokasi itu , kami semua mengalami tindakan kekerasan juga kami di intimidasi oleh kelompok Warga yang kebetulan kita tidak mengenal nya sama sekali ," papar nya lagi .

Selanjut nya , pada saat itu terdengar teriakan di tengah kelompok warga yang menghadang kami sembari kedengaran yaitu teriak,, bunuh,....!! bacok,... !! jangan kasih ampun juga kesempatan...!! sandra semua,...!!! itulah yang kami dengar langsung , lalu kami empat orang di sandra serta di tahan , layaknya kami adalah terorisme , kami tidak diberi kesempatan bicara , mereka seperti yang tidak mengenal hukum dan selalu terdengar teriakan ancaman , awas...!! jangan ada yang boleh telpon siapapun..!! karena di kampung ini tidak mengenal hukum...!! yang ada di sini hukum primitif ," kata nya .

"Sebelum nya kita dari Awak media , telah menunjukkan kartu identitas - kartu anggota dan surat tugas , kami dari media Jurnal Polri , kepada warga yang menahan alat berat JK (50) , tetapi tidak ada kesempatan untuk menerangkan nya , langsung kami semua di sandra dan di ancam , di hadang kelompok warga bersenjata parang pisau dan berbagai macam alat sajam yang diarahkan kepada kami bersama kawan wartawan lain nya ," pungkas nya .

"Sebagian kawan Wartawan yang lain juga diintimidasi dipaksa tidak boleh meliput , diancam awas kalian jangan ada yang foto - merekam juga mem vidio kan, siapapun kalian kami tidak peduli , kutip semua ....!! saat terjadi gejolak di lapangan yang kalian lihat ...!! diarea kampung ini , dengan terpaksa kami semua para Wartawan dalam penyandraan mengikuti perintah ancaman tersebut , demi keselamatan kami semua yang ter sandra.

“Saat itu saya bersama kawan wartawan yang lain bersama operator alat berat JK (50) , setiba di tengah jalan saat itulah sekelompok yang mengaku warga entah dari mana asalnya , mereka yang menodongkan parang memukul , membacok , menyandra kami juga kami dipaksa , dan diarahkan ke warung sihombing sepesial tempat penyanderaan , setelah esok harinya saya di pisahkan dengan kawan wartawan yang lain saya Husin Tanjung dipaksa masuk ke mobil yang katanya di dalam mobil itu ada juga polisi.

Atas paksaan mereka , saya ikuti masuk di dalam mobil karena melihat peristiwa yang sangat brutal sekali , seperti mereka yang punya hukum di tempat itu dengan sesukanya mereka berbicara salah menjadi benar , kami semua sebagian kawan wartawan masih ter sandra dengan tidak boleh berbuat apapun saat penyanderaan , yang bisa kami hanya menuruti kemauan mereka , karena dari kelompok mereka selalu mengancam dan mereka memegang alat sajam ," imbuh nya .

Saya yang dipisahkan dengan kawan terpaksa mengikuti perintah mereka , dalam perjalananan yang bukan jalan lintas yang di lalui dengan lancar melewati dua palang penjagaan saat saya melihat palang yang ke tiga saya anggap terakhir , penjagaan dua orang satpam berpakaian dinas , lalu saya keluar dari mobil saya mendekati satpam memberitahu masalah yang terjadi pada kami tetapi sekelompok mereka tidak terima langsung memukul , berbuat brutal semaunya mereka beramai - ramai yang pada saat itu di saksikan oleh saudara G manalu dan dua orang satpam juga mereka menyaksikan pemukulan , penyiksaan , serta menginjak - injak sampai saya pingsan di palang PT MAE tersebut .

“ Husin lebih lanjut katakan , setelah saya melihat kelompok bantuan mereka begitu menyerang saya , terpaksa melarikan diri beberapa langkah tetapi saya terjatuh karena tubuh saya dalam keadaan lemas yang kurang sehat sebelumnya , lalu pandangan mata saat itu berkunang - kunang , yang ter sandara kurang lebih dua hari satu malam , saat di sandra tidak di beri makan , tidak minum , tidak tidur , saya terjatuh disaat terjatuh lemah tak berdaya , sekelompok mereka mengambil kesempatan beramai ramai memukuli menginjak - injak , menendang , sepuasnya sampai saya pingsan lalu di ikat tangan saya pakai ikat pinggang yang saya pakai sendiri ," bebernya .

"Dalam keadaan tak sadar kan diri ,lalu di seret dan dimasukan ke mobil entah di bawa kemana kami , dua orang penjaga satpam yang saya harapkan bisa menolong , tetapi hanya takut dan terdiam menyaksikan kejadian tersebut , adapun kelompok mereka memaksa harus masuk dalam mobil, sebelum terjadi pengeroyokan dan penganiayaan , lalu kami dorong mendorong , akhir nya saya lari dan terjatuh karena tidak makan - minum , sebelum nya kami tidak tidur keadaan lemah / lemas , akhirnya terjatuh tidak berdaya langsung mereka menghajar - memijak - menendang - memukuli kami beramai - ramai , sampai saya sendiri susah bernapas lalu pingsan hampir mati di bikin nya , setelah itu saya di ikat lalu di masuk kan ke dalam mobil ," ungkap Husin lagi .

Tambah Husin , ke
esokan hari nya saya di bawa entah kemana , sewaktu dalam perjalanan melewati palang berkali-kali selalu dengan aman , waktu melewati pos ke tiga merasa tidak nyaman di dalam mobil , saya paksa diri untuk keluar dari mobil lantas memberitahukan pada ke dua satpam yang menjaga palang , tolong satpam di poto kami semua yang ada di dalam dan di luar mobil catat BK nya , agar segala sesuatu hal-hal yang terjadi nantinya , satpam tidak di salahkan nanti nya oleh pimpinan mereka , sebab satpam merasa takut dengan kelompok mereka tersebut ," jelas Husin menutup .

Penulis: Erianto / Ajo
Editor: Feby
Photographer: Erianto / Ajo

Baca Juga