Kisah Jaga Sitorus Mantan Sekdes Di Asahan , Bertekad Bangun Sekolah Untuk Anak Kampung Di Dusun Terpencil
Asahan ( sumut24.net ) - Di tengah peringatan Hari Guru Nasional pada 25 November 2025, perhatian publik banyak tertuju pada para pendidik di ruang-ruang kelas. Namun, di sebuah dusun terpencil di Kecamatan Bandar Pasir Mandoge, Kabupaten Asahan, ada sosok yang perannya tak kalah besar dalam membuka akses pendidikan bagi anak-anak desa: Jaga Sitorus, mantan Sekretaris Desa Huta Padang.
Meski kini berusia 67 tahun, tekadnya untuk memperbaiki nasib pendidikan di kampungnya tidak pernah padam. Ia bukan hanya mengajar, tetapi membangun jalan bagi anak-anak agar bisa merasakan bangku sekolah.
Kisah itu berawal pada awal 2000-an, saat Jaga masih menjabat sebagai Sekdes. Dalam kunjungannya ke Dusun X Sigalungon, ia mendapati anak-anak harus berjalan 5–10 kilometer setiap hari untuk mencapai sekolah terdekat di perumahan perkebunan PTPN IV Bandar Pasir Mandoge.
Mereka menempuh jalan berlumpur, licin, dan kerap menyeberangi sungai yang bisa meluap sewaktu-waktu. Seragam basah, kaki kotor, tubuh penuh lumpur—dan banyak dari mereka akhirnya menyerah, putus sekolah.
“Itu hari pertama saya sadar bahwa pendidikan di Sigalungon nyaris tak tersentuh,” kenang Jaga, Senin (24/11/2025).
Tahun demi tahun berlalu, tetapi kondisi tetap sama. Pada 2010, ketika ia menjadi Ketua LPM Desa, pemandangan itu kembali terulang. Banyak anak hanya menyelesaikan pendidikan dasar sekadar bisa membaca, menulis, dan berhitung.
Momen ini menjadi titik balik. Jaga merasa tak bisa lagi hanya mengandalkan pemerintah. “Saya harus memulai sesuatu,” ucapnya.
Pada tahun yang sama, ia mengambil langkah besar. Jaga mencari lahan untuk membangun sekolah. Dukungan pertama datang dari warga bernama Kalpin Sinaga yang bersedia menjual tanahnya.
Dengan dana pribadi hasil kontrakan kebun sawitnya di Simalungun sebesar Rp70 juta, Jaga membeli tanah dan mendirikan kelas darurat—cikal bakal SD dan TK Swasta Sigalungon yang kemudian bernaung di bawah Yayasan Pendidikan Parulian (YP Parulian).
Perjuangan mendapatkan izin operasional tidak mudah. Dinas Pendidikan sempat mempertanyakan urgensi pendirian sekolah baru mengingat sudah ada SD Negeri 018478. Namun, kenyataan menunjukkan anak-anak Sigalungon hampir tidak pernah mencapai sekolah negeri tersebut.
Setelah proses panjang, izin operasional akhirnya terbit pada 2012—menjadi pintu masuk bagi pembangunan sekolah permanen di Sigalungon.
Jaga kemudian mengajukan permohonan ruang kelas permanen kepada Pemerintah Kabupaten Asahan. Dengan dukungan anggota DPRD Asahan, Ebenejer Sitorus dari Fraksi Hanura, sekolah ini mendapat pembangunan satu ruang belajar. Pada 2024, fasilitas sekolah kembali bertambah melalui Dana Alokasi Khusus (DAK).
Kini SD Sigalungon memiliki sekitar 70 siswa, delapan guru, dan dipimpin oleh Kepala Sekolah Bistok TH Sitorus SPd.
Perjuangan dua dekade itu membuahkan hasil besar: tidak ada lagi anak Dusun X Sigalungon yang tidak bersekolah. Bahkan, alumni pertama SD Sigalungon kini sudah menapaki semester VI di perguruan tinggi—lompatan signifikan bagi desa yang dulu tertinggal.
Pada Hari Guru Nasional 2025, kisah Jaga Sitorus menjadi pengingat bahwa pendidikan tidak selalu dimulai dari ruang kelas. Kadang, ia tumbuh dari ketulusan seseorang yang memilih untuk peduli.
Guru bukan hanya mereka yang berdiri di depan papan tulis, tetapi juga mereka yang membuka jalan menuju ruang belajar. Di Sigalungon, perubahan itu dimulai dari seorang mantan Sekdes yang menolak membiarkan anak-anak kampungnya kalah oleh jarak dan lumpur.









Komentar